Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di SMK ISTEK Kaligangsa Tegal bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026 ini menjadi ruang jeda yang menenangkan—tempat siswa, guru, dan seluruh keluarga besar sekolah menata ulang arah langkah, menyambung kembali hubungan dengan Allah, dan memperbaiki kualitas diri.
Sejak pagi hari, suasana khidmat terasa. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, sholawat, dan hadroh mengalir lembut, menyiapkan hati untuk menerima nasihat yang penuh makna. Acara kemudian berlanjut dengan sambutan Kepala Sekolah dan Pengurus Yayasan Perguruan Islam Raudhatul Ulum Tegal yang menekankan pentingnya menjadikan momen Rajaban sebagai titik balik pembentukan karakter siswa.
Kata Sambutan: Hikmah Isra Mi’raj untuk Siswa
Sambutan Kepala Sekolah
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMK ISTEK Kaligangsa Tegal menegaskan bahwa sekolah tidak hanya berikhtiar melahirkan lulusan yang terampil dan siap kerja, tetapi juga lulusan yang berkarakter, jujur, dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan peringatan Isra Mi’raj ini, beliau mengajak seluruh siswa menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menata hati, serta menguatkan iman dan akhlak sebagai bekal menghadapi masa depan dan kehidupan bermasyarakat.
Sambutan Pengurus Yayasan
Sejalan dengan hal tersebut, pihak Yayasan menegaskan bahwa kegiatan peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan sarana pembinaan ruhani untuk menanamkan nilai-nilai keimanan, kedisiplinan ibadah, serta pembentukan akhlak mulia bagi para siswa sebagai generasi penerus.
Siswa diajak untuk memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari keterampilan dan prestasi akademik, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah, kedisiplinan sholat, serta akhlak dalam keseharian. Inilah bekal utama bagi generasi yang ingin kuat menghadapi tantangan zaman.
Tausiyah KH. Hasan Amrozi: Mengalir, Menyentuh, dan Menguatkan
Memasuki sesi inti, KH. Hasan Amrozi dari Tegal menyampaikan tausiyah dengan bahasa yang ringan, mengalir, namun sarat makna. Pesan demi pesan disampaikan dengan transisi yang halus, membuat jamaah—terutama para siswa—mudah memahami dan merenungkan isinya.
1. Sehat, Sholat, Sholawat, Sedekah
KH. Hasan Amrozi menegaskan bahwa hidup yang baik bermula dari empat hal sederhana namun mendasar: menjaga kesehatan, menegakkan sholat, memperbanyak sholawat, dan gemar bersedekah. Keempatnya saling terhubung, membentuk keseimbangan antara jasmani dan rohani.
2. Musibah Datang Saat Manusia Lupa kepada Allah
Beliau mengingatkan bahwa banyaknya musibah yang terjadi belakangan ini bukan semata ujian, tetapi juga peringatan. Saat manusia lalai, melupakan Allah, dan meninggalkan sholat, maka ketenangan hidup pun perlahan menjauh.
3. Rajab, Bulan yang Dimuliakan Allah
Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal baik, menjauhi maksiat, dan mulai mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.
4. Memperhatikan Kualitas Sholat
Penekanan utama dalam tausiyah ini adalah kualitas sholat. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi sholat yang khusyuk, tepat waktu, dan membawa pengaruh positif dalam sikap serta perilaku sehari-hari.
Rajaban sebagai Titik Balik
Peringatan Rajaban di SMK ISTEK Tegal menjadi pengingat bahwa perjalanan Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual— dari bumi menuju langit, lalu kembali ke bumi dengan membawa perubahan. Siswa diajak untuk menjadikan sholat sebagai kekuatan utama, iman sebagai pegangan, dan akhlak sebagai identitas.
Penutup
Melalui kegiatan ini, SMK ISTEK Kaligangsa Tegal menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi yang tidak hanya terampil dan siap kerja, tetapi juga kuat iman dan berakhlak mulia. Semoga hikmah Isra Mi’raj benar-benar hidup dalam keseharian siswa, menjadi cahaya dalam langkah, dan penuntun menuju masa depan yang penuh berkah.
Rajaban bukan sekadar peringatan, tetapi undangan untuk kembali—kembali kepada Allah, melalui sholat yang berkualitas.

-100x100.jpg)
-100x100.jpg)

-100x100.jpg)

